Jumat, 07 Juni 2013

NERACA PEMBAYARAN,UTANG NEGARA-NEGARA DUNIA KETIGA,DAN KONTROVERSI STABILITAS MAKROEKONOMI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam bab ini akan dibahas secara lanjut dan secara luas tentang neraca perdagangan negara-negara berkembang,juga selanjutnya menelaah dimensi-dimensi dan dampak-dampak dari dilema utang negara-negara Dunia Ketiga.Dalam bab ini juga akan berfokus pada masalah bangaimana krisis utang tersebut terjadi selama dekade 1980-an,dan tetap menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan di Afrika.dan bagaimana caranya untuk mengatasinya.Banyak negara-negar yang sedang berkembang mengalami masalah yang sama sehingga menghambat pertumbuhan negara tersebut dan menjadikan negara itu luntur dari tinjauan berbagai negara maju yang menawarkan bantuan.Dalam bab ini juga akan disajikan cara bagaimana cara maupun alternatif-alternatif yang baik dan benar dalam mengatasi krisis utang khususnya sehingga memperlancar pembayaran dan menyeimbangkan neraca pembayaran.Juga tersajikan studi kasus yang melibat suatu naegara yang mengalami krisis utang ,sejarahnya,bagaimana bisa terjadi krisi utang yang berlebihan juga tentunya bagaimana cara mengatasinya.Maka penting untuk kita mempelajari bab ini dalam bagaimana memahami neraca pembayaran,memahami sejauh mana krisis utang yang berlebihan dan bagaimana cara mengatasinya.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
       I.            Tinjauan umum neraca pembayaran
    II.            Pembiayaan (penutupan) dan pengurangan angka defisit neraca pembayaran
 III.            Krisis utang dekade 1980-an
 IV.            Upaya penaggulangan: Inststabilitas makroekonomi,kebijakan-kebijakan stabilisasi IMF,serta berbagai kelemahannya
    V.            Studi kasus

C.     Tujuan Penulisan
Setiap penulisan makalah pastilah ada tujuan tertentu didalamnya.Demikian juga saya sebagai penulis ingin meyampaikan sesuatudari pembuatan makalah ini.Adapun tujuan saya adalah semoga pembaca semakin memahami dan mengerti apa itu neraca pembayaran,seperti apa krisis utang negara itu pada negara sedang berkembang (negara dunia ketiga).Juga tentunya bagaimana cara mengatasinya yang menggunakan alternatif-alternatif yang baik dan benar.Juga terdapa studi kasus yang dapat pembaca pelajari bagaimana suatu negara Dunia Ketiga mengalami krisis utang yang dapat mempengaruhi neraca pembayarannya hingga caranya dalam memperbaiki negaranya melalui alternatif tersendiri.Harapan saya,semoga pembaca bisa memahami dan lebih mengerti lagi tentang pembahasan dalam bab ini.



BAB II
PEMBAHASAN


I.            Tinjauan umum Neraca Pembayaran
Sebuah tabel neraca pembayaran dirancang untuk merangkum transaksi finansial penduduk  (pelaku ekonomi keseluruhan,termasuk pemerintah) dari suatu negara dengan penduduk atau pelaku ekonomi dari negara-negara lain.Pada dasarnya ada tiga komponen dasar seperti yang  diperlihatkan oleh rangkuman skematis pada tabel dibawah ini.
Table 14.1 Skema Neraca Pembayaran
Ekspor barang dan jasa
A
Impor barang dan jasa
B
Pendapatan dari investasi
C
Pembayaran bunga dan cicilan utang
D
Saldo kiriman uang dan transfer uang
E
    Total saldo neraca transaksi berjalan (A-B+C-D+E)
F
Investasi swasta langsung
G
Utang luar negeri (Swasta dan pemerintah),dikurangfi amortisasi
H
Kenaikan aset luar negeri dalam sistem perbaikan domestik
I
Arus keluar modal milik penduduk
J
    Total saldo neraca transaksi (G+H-I-J)
K
Kenakan (atau penurunan) neraca cadangan kas (cash reserver account) atau neraca cadangan internasional
L
    Catatan koreksi dan penghapusan (erros and ommisions) (L-F-K)
M





Terdapat 3 komponen dari neraca pembayaran :
v  Neraca Transaksi Berjalan (Cerrent Account)
Yaitu sebuah neraca yang berfokus pada transaksi ekspor dan impor (barang maupun jasa),pendapatan,investasi,pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri,serta sado kiriman dan transfer uang dari dan keluar negeri baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun dari kalangan swasta (Individual).Secara spesifiknya neraca ini menonjolkan saldo yang merupakan selisih antara nilai ekspor dan impor,yakni saldo neraca perdagangan barang (merchandise trade ballance) dan menambahnya dengan saldo pendapatan investasi dari luar negeri neto,yakni selisih antara bunga dan deviden yang diterima oleh penduduk negara yang bersangkutan dari investasinya(dalam bentuk saham,obligasi,dan deposito di bank ) di luar negeri,dikurangi dengan jumlah bunga dan deviden yang diterima oleh penduduk negara lain atas investasinya yang berada di negara itu,serta selisih antara pendapatan perusahan milik asing yang berada di negara tersebut.Terhadap angka total ini (A-B+C),di kurangi lagi dengan transaksi D,yakni pembayaran bunga dan cicilan utang.Selanjutnya angka hasil pengurangan itu ditambah dengan transaksi E,yakni saldo neto atas kiriman dan transfer uang,baik ddari pihak pemerintah maupun swasta,termasuk kiriman uang yang dikirim oleh para penduduk yang bekerja di luar negeri.
Sedangkan hasil akhirnya (A-B+C-D+E) menghasilkan apa yang disebut sebagai saldo (balance) dari neraca transaksi berjalan.Jika angkanya positif maka disebut surplus,sebaliknya jika angkanya negatif maka disebut defisit.
v  Neraca Modal (capital account)
Mencatat antara lain nilai investasi pihak swasta asing secara langsung (foreign direct investment),terutama yaang dilakukan oleh atau yang berasal dari perusahan-perusahan multinasional,pinjaman luar negeri yang diberikan oleh perbankan swasta internasional,sarta pinjaman dan hibah dari pemerintah negara-negara lain(dalam bentuk luar negeri),serta dari lembaga-lembaga donor multilateral seperti hslnys IMF dan Bank Dunia.Arus masuk dari dana-dana luar negeri itu kemudian dikurangi oleh suatu jenis transaksi yang sangat besar nilainya.

v  Neraca Tunai (cash account)
Pada dasarnya komponen ini hanya merupakan transaksi penyeimbang yang angkanya menjadi lebih kecil atau diturunkan apabila total pengeluaran  pada neraca transaksi tersebut berjalan dan neraca modal melebihi total penerimaannya
Transaksi-transaksi positif dan negatif dalam Neraca Pembayaran
Transaksi Positif (Kredit)
Transaksi Negatif (Debet)
Setiap penjualan barang atau jasa ke luar negeri (ekspor)
Setiap pembelian barang/jasa dari luar negeri (Impor)
Setiap pendapatan investasi milik penduduk domestik yang berada  di luar negeri dalam ekonomi domestik
Setiap investasi penduduk domestik di luar negeri
Setiap penerimaan uang dari luar negeri
Setiappengeluaran uang ke luar negeri
Penerimaan hibah/hadiah dari pihak-pihak  luar negeri
Pemberian hadiah/hibah ke pihak-pihak luar
Setiap penjualan saham/obligasi ke luar negeri
Setiap pembelian saham/obligasi dari luar negeri

Setiap negara mengakumulasi cadangan kas  internasionalnya dalam bentuk berikut ini:
1.      Mata uang keras atau mata uang yang relatif terkuat di dunia
2.      Emas,baik itu hasil pertambangan domestik maupun yang dibeli dari luar negeri
3.      Deposito di IMF,yang sampai batas-batas tertentu maupun bertindak sebagai bank cadangan dari bank-bank sentral dari setiap negara
II.            Pembiayaan (penutupan) dan Pengurangan Angka Defisit Neraca Pembayaran
Ø  Beberapa Masalah Awal Kebijkan
Untuk membiayai atau menutup devisit neraca pembayaran sebesar US$25 juta tersebut ( yang merupakan gabungan antara devisit neraca modal dan devisit neraca transaksi berjalan) ,pemerintah negara berkembang yang kita kaji secara hipotesis tersebut harus mengurus  cadangan internasional sebesar US$25 Juta.Cadangan internasional (international reserves) terdiri dari emas,beberpa mata uang asing yang ter kuat,dan SDR ( special Drawing rights) atau mata uang artivisial buatan  IMF.Cadangan nternasional bagi  suatu negara sama fungsinya dengan rekening bank untuk individu.Cadangan ini bisa ditarik kapan saja untuk membayar suatu transaksi atau utang,dan jumlahnyajuga bisa bertambah apabila pendapatan negara yang bersangkutan juga bertambah,dari peningkatan volume pendapatan neto ekspor atau kenaikan arus masuk permodalan.Cadangan ini juga bisa dan (pada kenyatanya memang sering kali) dipakai sebagai suatu agunan atau  jaminan untuk menarik  pinjaman dari sumber-sumber keuangan diluar negeri.
Saldo pada neraca transaksi berjalan plus saldo pada neraca modal harus senantiasa di seimbangkan melalui saldo pada neraca tunai atau cadangan internasional.Hal tersebut telah diperlihatkan sebagi penurunan neto  atas cadanagan moneter resmi dari negara itu sebesar US$  25 Juta.Negara-negara itu berkembang itu sangat  miskin,maka cadanagan internasioanlnya sangat terbatas.Kondisi seperti ini,negara tersebut akan sulit menutip devisit sebesar US$ 25 Juta dari kas domestiknya.Meskipun ia memiliki cadangan moneter resmi sebesar itu,maka ia harus mengorbankan  pos-pos anggaran yang penting yang akan membatasi  kemampuan melanjutkan impor barang-barang modal dan konsumen yang amat dibutuhkannya.Dinegara-negara yang paling terbelakang,yang bahkan harus  mengimpor bahan-bahan pangan un tuk penduduknya yang selalu terancam kelaparan,dengan jumlah cadangan internasioanal yang sangat sedikit,penutupan devisit neraca pembayaran seperti itu akan sangat memukul standar hidup jutaan penduduk domestiknya.Bahkan sering kali  mereka harus berhutang hanya untuk menutup devisit,sehingga dengan sendirinya hutang luar negerinya terus-menerus bertambah,sedangkan kemampuan pelunasannya tidak menentu.
Dalam menghadapi kenyataan atau proyeksi devisit neraca pembayaran yang pada dasarnya merupakan gabungan dari gabungan devisit neraca berjalan dan neraca modal,pemerintahan negara-negara berkembang itu memiliki beberapa macam pilihan kebijakan.
·         Mereka dapat berusaha memperbaki kondisi neraca pembayaran itu melalui promosi ekspor atau pembatasan impor atau dengan melaksanakan kedua-duanya.Bila ingin mmelaksanakan kebijakan promosi ekspor,pilihan yang hendak dikembangkan sebagai andalan ekspornya biasanya terbatas,dan harus memilih jenis produk primer atau skunder yang ingin dipromosikan.Dalam upaya membatasi impor,kebijakan-kebijakan subtitusi impor dan atau pemberlakuan tarif impor atau pengenaan kuota fisik secara selektif atau pelarangan impor secara total.
·         Negara-negara yang berkembang yang tengah mencoba memperbaiki kondisi  neraca pembayaran biasanya akan berusaha memacu investasi(baik investasi asing swasta secara langsung maupun investasi portofolio ),serta meningkatkan pinjaman dari bank-bank komersial internasional,mencari lebih banyak bantuan dari pemerintah asing.Investasi  dan pinjaman kada imbalannya.Suatu saat nanti negara-negara berkembang yang bersangkutan akan membayarnya kembali dalam jumlah yang lebih besar.Sedangkan investasi secara langsfung dari pihak swasta asing,sebagian besar keuntungannya akan kembali kenegara-negara asal modal itu.
·         Negara-negara Dunia ketiga itu dapat berupaya memodifikasi dampak-dampak yang merusak dari devisit neraca pembayaran yang kronis tersebut melalui peningkatan jumlah cadangan moneter resmi atau cadangan sahamnya.Salah satu cara yang bisa ditempuh yaitu berusaha menambah penarikan “emas kertas”internasioal baru terbitkan Dana Moneter Internasional (IMF) yang dikenal dengan sebutan spesial drawing rights / SDR.Berdasarkanfungsi ddan mekanisme kerja sistem moneter internasioanal,negara-negara berkembang maupun maju yang mengalammi defisit neraca pembayaran diminta untuk mengatasinya,
A.menarik simpanannya yang berupa emas atau dolar Amerika Serikat.Pada tahun 1970 IMF diberi wewenang  untuk menciptakan uang buatan yang disebut SDR senilai US$10 miliar.Masalah pokok yang dihadapi adalah ketimpangan produksi SDR dan,ketimpangan atau manfaat SDR itu anatar negara maju serta berkembang yang sama merupakan negara IMF.Distribusi yang kini berlaku adalah 75 persen untuk 25 negara-negara industri maju dan 25 persen untuk sekitar 90 negara-negara berkembang yang aktif berpartisipasi dalam sistem moneter internasional.
Ø  Tren Muthahir atas Kondisi Neraca Pembayaran Negara-negara Berkembang
Bagi kebanyakan negara berkembang,dekade 1980-an merupakan periode yang sangat menyulitkan bagi kondisi neraca pembayaran mereka,dalam kaitannya dengan negara-negara lain.Strategi pembangunan konvensional yang dijalankan oleh pemerintah  dinegara-negara berkembang banyak bertumbuh kepada toleransi terhadap devisit neraca transaksi berjalan(pembangunan itu berlangsung dengan dibayangi oleh adanya devisit transaksi berjalan yang cukup besar).Kondisi devisit itulah mereka mengadakkan impor modal dan barang,sehingga bisa tetap menyediakan mesin-mesin dan peralatan yang dibutuhkan proses industrialisme dengan cepat.Ketika impor terus bertambah,ternyata pendapatan ekspor tidak dapat mengikutinya sehingga terciptalah ketidakseimbangan devisit pada neraca transaksi berjalan.Untuk menutup menutup devisit neraca transaksi berjalan itulah pemerintah negari-negara Dunia Ketiga menggunakan dana-dana bantuan luar negeri resmi yang bersifat antarpemerintah(bilateral) dan investasi langsung oleh perusahaan-perusahaan multinasional,pinjaman swasta yang diberikan oleh kalangan perbankan komersial internasional baik kepada pihak pemerintah maupun piha-pihak swasta dinegara-negara berkembang,serta bantuan multilateral khusus dari bank Dunia dan lembaga-lembaga pembangunan internasional lainnya.Dengan tersedianya sumber pembiayaan yang begitu banyak,maka neraca modal(capital account) negara-negara berkembang acapkali mengalami surplus sehingga bisa menutup devisit pada neraca transaksi berjalan.Surplus itu terkadang begitu besar,melebihi devisit transaksi berjalan yang ada,sehingga negara-negara berkembang bahkan bisa mengakumulasi cadangan internasional.
            Faktor-faktor penyebab kemerosotan posisi atau saldo neraca transaksi berjalan  selama dekade 1980-an dan 1990-an antara lain :
1.      Penurunan yang sangat tajam atas harga-harga komodisi,termaasuk minyak
2.      Resesi global pada periode 1981-1982 dan 1991-1992,yang mengakibatkan penyusutan volume perdagangan dunia secara keseluruhan
3.      Meningkatnya  proteksionisme negara-negara maju terhadap ekspor dari negara-negara berkembang
4.      Meningkatkan nilai tukar yang terlalu tinggi semakin memperparah posisi ekspor,terutaman dinegara-negara pengekspor di Asia Timur dan beberapa negara berkembang penting lainnya,seperti Argentina.


 1980      1985       1990       1995      1996     1997
Semua negara-negara berkembang berdasarkan kawasan
Afrika
Asia
Timur tengah
Amerika Latin
30,6
-24,9
-25,1
-96,2
-87,8
-82,9
-2,1
-1,2
-8,0
-16,6
-5,5
-6,5
-14,4
-13,1
-16,4
-42,5
-38,6
9,2
92,5
-7,6
0,6
-
11,4
10,3
-29,8
-1,9
-1,3
-37,1
-39,1
-66,8
                                                                                                                       





                                                            1998       1999      2000      2001      2002     2003
Semua negara-negara berkembang berdasarkan kawasan
Afrika
Asia
Timur tengah
Amerika Latin
-115,0
-18,1
-88,1
37,9
83,6
121,0
-19,5
-15,9
5,4
-1,5
-7,4
-3,7
48,9
48,1
45,4
38,1
-68,1
61,8
-25,3
11,5
69,6
38,1
29,0
51,7
-91,2
-57,0
-47,0
-54,5
-15,8
3,8
                       



III.            Krisis Utang pada Dekade 1980-an
Ø  Belakang dan Analisis
Dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga,akumulasi utang luar negeri(exsternal debt) merupakan suatu gejala umum yang wajar,dimana tabungan dalam negeri rendah,devisit neraca pembayaran sangat tinggi dan impor modal juga sangat dibutuhkan untuk menambah sumber daya domestik.Awal tahun 1970-an,utang negara-negara berkembang relatif kecil,utang tersebut merupakan utang resmi yang bersumber dari pemerintahan negara-negara asing serta lembaga-lembaga keuangan internasional,seperti IMF,Bank Dunia dan bank-bank pembangunan regional.Sebagian besar pinjaman merupakan kredit bersyarat lunak dan sengaja diarahkan untuk menopang pelaksanaan proyek pembangunan yang tidak saja bermanfaat secara ekonomi namun juga secara sosial,serta untuk mengimpor barang-barang modal.Bank-bank komersial internasional mulai memainkan beberpa peranan yang lebih besar dalam pinjaman internasional,dengan memutar surplus dana OPEC berupa “petrodolar”serta menyalurkan berbagai pinjaman serbaguna ukan ntuk menunjang penyelesaian devisit neraca pembayaran dan pengembangan sektor ekspor.
Meskipun pinjaman memeng bermanfaat,karena dapt menciptakan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dapat menciptakan sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan proses pembangunan,pinjaman itu ada juga biayanya.Biaya terbesar dari semakin menumpuknya utang-utang luar negeri itu adalah meningkatnya beban pembayaran angsuran utang(debt service).Angsuran utang tersebut terdiri dari omortisasi(pembayaran utang pokok) dan pembayaran bunga yang tidak segera dilunasi akan menumpuk,yang berdasar kan perjanjian dari pendapatan dan tabungan rill luar negeri.Jika utang-uatang terus membesar atau tingkat suku bunganya meningkat,maka denagn sendirinya pembayaran angsuran utang meningkat.Kewajiban pembayaran angsuran hanya dapat dilakukan  dari penghasilan ekspor,pengurangan impor atau denagn menarik pinjaman barudari luar  negeri.Kewajiban negara untuk membayar angsuran utang bisa dipenuhi denag hasil  pendapatan ekspornya.Dan apabila kompososi impor berubah,atau suku bunga tiba-tiba saja meningkat pesat,,yang menyebabkan semakin besarnya pembayaran yang harus dilakukan dalam meluasi utang,atau apabial penerimaan ekspor mendadak berkurang ,maka pemerintahan negara-negara berkembang yang bersangkutan akan mengalami kesulitan untuk membayar angsuran utangnya.Dan ini dialami oleh sebagian besar negara-negarab Dunia Ketiga yang memiliki utang banyak di luar negeri.
Transfer dasar dari suatu negara adalah arus masuk(arus keluar) neto valuta asing yang berkaitan denaganoinjaman internasionalnya.Konsep tersebut diukur dan dinyatakan sebagi selisish antara arus masuk moadal neto (net capital inflow) dan pembayaran bunga atas akumulasi utang yang sudah ada.Sedangkan arus masuk modal neto itu sendiri merupakan arus masuk bruto (gross inflow ) yang baru diterima dan imortisasi (pelunasan secara bertahap ) terhadap utang-utang sebelumnya.Konsep ini sangat penting karena dapat menunjukkan jumlah valuta asing yang diterima atau yang dilepaskan oleh suatu negara-negara berkembang setiap tahunnya dari arus permodalan internasional.Bahwa posisi transfer negara-negara berkembang beruybah drastis menjadi sangat negatif,sehingga mengakibatkan hilangnya valuta asing dan negara-negara berkembang tersebut mengalami arus keluar modal neto (net capital outflow).

Bila arus modal neto (FN  ) dapat dinyatakan sebagi tingakat kenaikan dari total utang luar negeri,sedangkan D menunjukkan total akumulasi hutang tersebut,dan aopabila d adalah presentase tingkat kenaikan total utang maka:

FN = dD

Karena utang tersebut berbunga dan bunga harus dibayarkan setiap tahunnya,kita simbolkan r  sebagai suku bunga rata-rata sehingga rD merupakan total pembayaran bunga utabg pertahunnya.Transfer dasar ( BT) ,dengan demikian merupakan arus masuk neto dikurangi pembayaran bunga atau :
                   
BT =dD – rD = (d-r)D

BT akan bernilai positif jika d lebih besar daripada r ,dan dalam kondisi demikian negara yang bersangkutan akan memperoleh valuta asing.Akan tetapi,jika d lebih kecil dari r,maka transfer dasarnya menjadi negatif,dan negara tersebut akan kehilangan  valuta asing .Setiap analisis mengenai evolusi dan prospek krisis utang negara-negara Dunia Ketiga memerlukan tinjauan atas berbagai faktor yang menyebabkan naik/turunnya d dan r.
Ø   Asal Muasal Krisis Mata Uang
Utang eksternal negara-negara berkembang meroket dari US$68,4 miliar hingga melebihi US$2,14 triliun,atau naik lebih dari 3000 persen.Sedangkan pembayaran pelunasan pinjaman sendiri mengalami kenaikan hingga 2.527 persen dengan nilai lebih dari US$277 miliar.Sebagian besar utang itu berpusat pada empat negara Amerika Latin,yakni Brasil,Meksiko,Argentina dan Venezuela
Sesungguhnya bibit dari krisis utang pada dekade 1980-an itu  telah mulai ditanam pada periode tahun 1974-1979,saat terjadi ledakan pinjaman internasional yang hebat,yang dipercepa dengan kenaika harga-harga minyak olah OPEC.Sejak tahun 1974,negara-negara berkembang mulai memainkan peranan yang lebih besar dalam perekonomian dunia,dengan tingkat pertumbuhan rata-rata seb 6,6 persen selama tahun 1967-1973.Negara-negara industri baru dikawasan Amerika Latin,seperti Meksiko,Brasil,Venezuela,dan Argentina,memiliki tingkat pertumbuhan jauh di atas rata-rata negara-negara berkembangan Lainnya.Untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan,beberapa negara mulai mengimpor dalam jumlah yang besar,terutama untuk barang-barang modal,minyak,dan pangan.Ketika pinjaman terus meningkat,terutama pinjaman yang tidak bersyarat lunak,maka negara-negara berkembang yang berpendapatan menengah dan negara – negara industri baru tidak dapat lagi memenuhi harapan pertumbuhannya.Lebi jauh,negara-negara berkembang yang impornya jauh melebihi ekspornya enggan untuk mengadakan pendekatan pada sumber-sumber keuangan yang resmi,seperti IMF,yang mungkin akan mengharuskannya untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan penyesuaian yang menyesatkan.Oleh karna itu,negara-negara berkembang yang berpendapatanmenengah dan negara-negara industri  baru mulai meminjam pada bank-bank komersial dan lembaga kredit swasta lainnya yang mulai memberikan pinjaman serbaguna untuk menunjang neraca pembayaran.
Sebagai dampak dari faktor-faktor tersebut,total utang luar negeri negara-negara berkembang melonjak lebih dari dua kali lipat,dari US$ 180 miliar di tahun 1975 menjadi US$ 406 miliar di tahun 1979,atau mengalami kenaikan lebih dari 20 persen per tahun.Hallain yang lebih penting,kenaikan proporsi utang pada saat ini banyak disebabkan oleh utang yang bersifat nonkonsesional yang bunganya lebih tinggi dan masa pembayarannya lebih singkat.Pada tahun 1971,proporsi utang eksternal nonkomsesional tersebut mencapai 40 persen dari total utang eksternal.Namun di tahun 1975 proporsinya telah meningkat menjadi 68 persen,dan pada tahun 1979  naik lagi menjadi lebih dari 77 persen.Meskipun kenaikan pinjaman yang bersifat nonkonsensional dari lembaga-lembaga resmi turut menyebabkan kenaikan proporsi utang,tetapi penyebab utamanya adalah  lonjakan kapasitas kredit dari pasar-pasar modal (swasta) internasional hingga tiga kali lipat ketimbang sebelumnya.Lonjakan total utang dan kenaikan proporsi pinjaman komersial nonkonsesional tersebut selanjutnya menjadi penyebab utama atas melambungnya total beban pembayaran bunya dipundak negara-negara pemiutang.
Lonjakan jumlah utang negara-negara Dunia Ketiga terjadi pada perioda pasca-lonjakan harga minyak pertama itu,antara tahun 1974-1979.Atmosfer perekonomian internasional yang cukup positif dan kondusif memungkinkan negara-negaraberkembang memacu pertumbuhan ekonominya tanpa adanya kesulitan untuk melaksanakan kewajiban pelunasan utang luar negerinya.Sistem ekonomi global tersebut juga memperlancar proses perputaran dolar-dolar surplus ekspor dari negara-negara pengekspor minyak negara-negara pengimpor minyak melalui kegiatan perkreditan yang dijalankan oleh bank-bank swasta internasional,serta membantu untuk meredam resesi ekonomi di banyak negara industri maju sehingga daya serap pasar-pasar mereka terhadap produk-produk ekspor negara-negara Dunia Ketiga tetap terjaga.
Sayangnya periode positif ini berlangsung singkat.masa-masa berikutnya menjadi lebih suram.Lonjakan jumlah utang negara-negara Dunia Ketiga pada periode 1974-1979 turut melatarelakangi munculnya berbagai masalah pada periode selanjutnya.Kejutan harga minyak kedua,yangterjadi pada tahun 1979, meluruhkan berbagai kondisi ekonomi internasional kondusif bagi berlangsungnya arus perkreditan internasional pada periode sebelumnya.Lonjakan harga minyak menyebabkan negara-negara berkembang harus menghadapi kenaikan harga minyak yang sangat tinggi yang memberatkan rekening-rekening impor negara-negara berkembang yang tidak memiliki minyak dan juga mempengaruhi impor barang-barang industri.
Faktor selanjutnya yang memberatkan negara-negara berkembang adalah mengalirnya modal-modal domestik keluar negeri yang dikenal sebagai fenomena pelarian modal.Antara tahun 1976 hingga tahun 1985,terjadi pelarian modal secara besar-besaran.Sekitar US$ 200 miliar dana-dana dari negara-negara miskin pengutang terbesar dilarikan ke negara-negara maju.Jumlah itu setara dengan 50 persen total utang luar negeri yang ditarik oleh negara-negara Dunia Ketiga dalam periode yang sama.Diperkirakan sekitar 62 persen utang luar negeri Argentina dan 71 persen utang meksiko tercipta akibat adanya kebutuhan untuk menutup kelangkaan modal yang diakibatkan oleh pelarian modal tersebut.Bahkan ada beberapa perkiraan yang menyebutkan bahwa seandainya pelarian modal dari Meksiko itu tidak terjadi,maka jumlah maksimal utangnya pada tahun 1985 hanya mencapai US$ 12 miliar
Dihadapkan pada situasi-situasi kritis seperti ini,negara-negara Dunia Ketiga memiliki dua pilihan kebijakan untuk mengatasinya.
Ø  Pertama
Mereka dapat membendung impor serta menerapkan kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter,yang resikonya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Ø  Kedua
Mereka menarik utang lebih banyak lagi untuk membiayainya defisit neraca transaksi yang semakin besar itu.

          
NB
*Eurodolar adalah deposito dolar yang tersimpan di bank-bank di luar wilayah negara yang mencetaknya (di luar Amerika Serikat) dan tidak hanya yang didepositokan di bank-bank eropa.Bank-bank itu bukannya mengirimkan dolar tersebut ke Amerika Serikat ,melainkan memutarinya sendiri.Sehingga dolar itu pun tertahan di luar Amerika; di samping itu,bank-bank tersebut juga secara langsung menerima deposito dolar dan membayarnya bunganya.


IV.            Upaya Penangulangan Instabilitasi Makroekonomi.
Ø  Program stabilitasi IMF
Salah satu rangkaian kegiatan yang terpaksa ditempuh oleh suatu negara dalam menanggulangi berbagai macam masalah masalah utnag luar negeri.
Gagasan dasarnya adalah,melalui upaya renegosiasi,bisa diharapkan masa pembayaran utang akan diperpanjang dan suku bunganya bisa direndahkan atau untuk mendapatkan pinjaman tambahan dengan syarat-syarat yang ringan.Tetapi sebelum konsorsium bank internasional bersedia mempertimbangkan  untuk memberikan keringanan tersebut,mereka menuntut agar negara pengutang,yang bersangkutan untuk lebi dahulu mendapatkan rekomendasi dari  IMF.Selanjutnya,IMF baru bersedia memberikan rekomendasi dan bantuan-bantuan finansialnya apabila negara-negara berkembang tersebut sebelumnya bersedia menjalankan resep-resepnya untuk menyembuhkan perekonomian dan memperbaiki kondisi-kondisi neraca pembayaran mereka,yakni dengan melaksanakan Kebijakan-kebijakan Stabilisasi (Stabilization Policies).Kesediaan negara-negara Dunia Ketiga untuk melakuakan kebijakan stabilitas IMF juga mereka nilai sebagai bukti kesungguhan mereka untuk  menurunkan defisit neraca pembayaran dan berusaha mengumpulkan devisa untuk melunasi utang-utang mereka terdahulutepat pada waktunya.
Pada dasarnya terdapat empat komponen dasar  yang terkandung dalam program stabilisasi IMF :
1)      Penghapusan atau liberalisasi atas kontrol pihak pemerintah terhadap lalu lintas devisa dan impor
2)      Devaluasi nilai tukar resmi mata uang domestik negara-negara berkembang yang sering kali terlalu tinggi (overvalued)
3)      Pemberlakuan program-programa antiinflasi serba ketat yang terdirir dari
a)      Kontrol terhadap arus kredit perbankan dalam rangka meningkatkan suku bunga dan memperketat syarat-syarat volume cadangan mnimum ,yakni sebagian dana yang harus disimpan di bank sentral sebelum suatu bank komersial dapat melemparkan kreditnya kepada nasabah.
b)      Kontrol terhadap defisit anggaran pemerintah melalui pembatasan belanja negara,khususnya di bidang-bidang pelayanan sosial bagi penduduk miskin,susidi bahan pangan,yang biasanya disertai denag upaya-upaya peningkatan pajak,dan harga-harga produk yang dihasilkan oleh perusahan-perusahan milik pemerintah
c)      Kontrol terhadap kenaikan tingkat upah secara keseluruhan (agregat) guna memastikan bahwa tingkat upah tersebut tidak melebihi tingkat inflasi.
d)     Menghilangkan berbagai macam bentuk kontrol harga serta mendorong mekanisme pasra yang lebih bebas.

Pada awal decade 1980-an,banyak negara pengutang yang telah kehabisan  cadangan devisa.Negara-negara Dunia Ketiga yang mengalami malapetaka itu antara lain adalah Meksiko  ,brazil ,Argentina, ,Bangladesh,dan Ghana,sehingga meraka selanjutnya terpaksa mengajukan permohonan kepada IMF untuk mendapatkan tambahan bantuan devisa.Pada tahun 1992,ada 10 negara yang telah melaksanakan negosiasi untuk mendapatkan pinjaman SDR khusus senilai 37,2 miliar unit SDR.Untuk dapat menerima bantuan  tersebut ,ini yang lebih penting,mengadakan negosiasi demi mendapatkan kredit tambahan dari bank-bank swasta internasional,semua negara tersebut diwajibkan untuk menerapkan sebagian atau keseluruhan menu kebijakan stabilitas  yang dirumuskan oleh IMF.Meskipun kebijakan tersebut berpotensi besar untuk menurunkan lonjakaninflasi dan memperbaiki kondisi neraca  pembayaran negara-negara berkembang yang bersangkutan,tetapi program-program tersebut secara politis tidak populer (seperti Venezuela,Nigeria, Indonesia dan Korea Selatan yang memperlihatkan sikap anti IMF pada dekade 1990-an) karena dapat memperlambat usaha-usaha pembangunan yang sifatnya paling fundamental .
Pihak yang paling dirugikan adalah golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah.Dalam lingkungan perdagangan dunia yang serba tidak adil seperti sekarang ini,masalah-masalah dan krisis neraca pembayaran yang dihadapi oleh negara-negara Dunia Ketiga sebenarnya bersifat struktural dan jangka panjang.Itulah sebabnya kebijakan-kebijakan stabilisasi yang berjangka pendek seperti yang sering dipaksakan oleh IMF tidak akan membuahkan hasil-hasil yang memuaskan ,bahkan sebaliknya bisa menyebabkan krisis pembangunan dalam jangka panjang yang lebih parah lagi.
Tanpa adanya restrukturiasasi secara besar-besaran terhadap perekonomian domestik negara-negara berkembang itu sendiri mungkin disertai dengan bantuan penyesuaian strukutral (structural adjustment loans) dari bank-bank dunia dan perombakan tata ekonomi internasional agar lebih adil daripada sekarang ini,maka pada dasarnya setiap pemberlakuan kebijakan-kebijakan ekonomi ortodoks dalam rangka mengejar tujuan-tujuan penyeimbang neraca pembayaran yang juga bersifat ortodoks hanya merusak sistem yang sebenarnya hendak dipertahankan oleh IMF.Meskipun motifnya tidaklah seburuk seperti yang dikemukakan oleh Cheryl Payer dan para teoritisi ketergantunagn lainnya,tetapi kebijakan-kebijakan finansial IMF yang serba ketat itu memang cenderung memperparah kesulitan yang sudah ada dan menciptakan beban ekonomi tambahan yang sebenarnya tidak perlu ada terhadap negara-negara yang sesungguhnya sudah terlalu miskin untuk menanggungnya.
Ø  Strategi untuk Melepaskan Diri dari Utang
Banyak usulan yang telah diajukan untuk meringankan atau untuk meregonesiasi beban utang negara-negara pengutan terbesar.Usulan itu sendiri sangat bervariasi :
*      Mulai dari alokasi baru sejumlah SDR sampai dengan program retrukturisasi (retructuring) dalam dasar-dasar utang yang lebih memihak kepada negara-negara yang sedang berkemnbang,pembayaran pokok pinjaman yang telah terlanjur jatuh tempoh selama periode konsolidasi selama kurun waktu tertentu.
*      Usulan yang dikemukan oleh pengaturan Paris Club,yang menawarkan suatu paket bantuan yang sangat bersifat konsesional yang kemudian lebih dikenal sebagai dasar-dasar Toronto .Pengaturan bilateralatas pinjaman resmi yang tersebut akan memungkinkan pemerintah negara-negara pemberi pinjaman atau kreditor untuk memilihsalah satu alternatif bantuan konsesional:penangguhan atau pembatalan sebagian pinjaman nonkonsesional,maksimal hingga sepertiga dari total utang komersial itu.Penurunana suku bunga atas keseluruhan volume pinjaman atau perpanjangan periode pembayaran sampai dengan 25 tahun;semua itu dianjurkan sampai peminjam melunasi semua utangnya.
*      Rencana Brady (Brady Plan) ; mencantumkan sebuah klausulbaru guna untuk meredam potensi kerugian bagi bank-bank komersial.Rencana ini bermaksud untuk menghapus sebagian utang tetapi sisa pinjaman yang tidak terhapuskan akan dijamin pelunasannya oleh IMF atau Bank Dunia,asalakan negara-negara berkembang yang bersangkutan bersedia melaksanakan program-program penyesuaian yang disaranakan oleh IMF,mempromosikan pasar bebas,menarik investasi asing,dan mengembalikan modal dan dana milik asing .
*      Usulan Pertukaran  Utang-untuk-Modal (debt-for-equityswap)
Mekanisme ini meliputi penjualan surat-surat promes dari pemerintah negara-negara berkembang yang merupakan dokumen pinjaman komersial negara-negara berkembang kepada investor swasta (sebagian besar adalah perusahan-perusahan asing) dengan potongan harga lebih dari 50 persen dalam pasar-pasar perdagangan sekunder .Perusahan-perusahan itu kemudian memperdagangkan surat promes negara-negara debitor tersebut untuk mendapatkan aset lokal yang dimiliki negara,seperti perusahan pelebur baja atau perusahan telekomunikasi.Bank-bank komersial sekarang lebih bersedia untuk melibatkan diri falam transaksi-transaksi seperti ini karena penafsiran dan aturan perbankan yang baru di Amerika Serikat memungkinkan mereka untuk mencatat penghapusan utang itu sebagai biaya sehinga akan mengurangi biaya pajak mereka tanpa harus mengurangi nilai buku dari utang-utang lainnya yang dimiliki oleh negara tersebut.
*      Pertukaran Utang untuk Lingkungan (debt-for-nature swap)
Pihak kreditor dihimbau untuk memberi keringanan utang bagi negara-negara berkembang asalkan pemerintah di negara-negara Dunia Ketiga mau melakukan langkah-langkah preservasi atau pelestarian lingkungan hidup secara lebih serius.Sebagin besar program ini diperjuangkan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat seperti World Wildlife Fund atau Nature Conservansi .Mereka bahkan bersedia membeli surat promes negara-negara berkembang pada tingkat diskonto tertentu dari bank lokal,lalu merestrukturisasikan menjadi alat pembayaranberupa mata uang setempat yang selanjutnya digunakan untuk membayai berbagai kegiata pelestarian lingkungan.
Meskipun banyak negara berkembang itu sendiri yang memang bertanggung jawab,paling tidak sebagian atas terjadinya akumulasi utang tersebut,tetapi kondisi-kondisi ekonomi yang buruk yang mereka hadapi pada umumnya memang berada diluar jangkauan kontrol mereka .Dalam kenyataannya terbentuk iklim ekonomi global dewasa ini yang cenderung merugikan mereka itu lebih di sebabkan oleh kebijakan-kebijakan stabilitas ekonomi yang dijalankan oleh negar-negara industri maju,yang juga telah meningkatkan tingkat suku bunga,menciptakan resesi ekonomi dunia,dan menurunkan permintaan atas ekspor dari negara-negara berkembang.
Pada saat yang bersamaan,banyak negara berkembang berpendapatan rendah yang juga merupakan pengutang terbesar,khususnya yang berada di Afrika,terperangakap dalam satu linkaran setan.Pembayaran utang eksternalnya justru menciptakan hambatan pertumbuhan ekonomi,padahal pertumbuhan ekonomi itulah yang merupakan satu-satunya harapan bagi mereka untuk membebaskan diri dari jebakan utang untuk selama-lamanya.



STUDI KASUS

Argentina ; Krisis utang

Argentina adalah sebuah negara Amerika Latin yang terletak di bagian selatan benua Amerika Selatan, posisinya berada di antara Pegunungan Andes di barat dan Samudra Atlantik di selatan. Lokasi ini membuat Argentina dikenal sebagai 'negara paling selatan di selatan' (bahasa Spanyol: "Sur del sur"). Argentina mempunyai kawasan yang luas dan merupakan negara terbesar kedelapan di dunia, sedangkan ibu kotanya Buenos Aires adalah salah satu metropolitan yang terpadat di dunia. Negara ini berbatasan dengan Paraguay dan Bolivia di sebelah utara, Brasil dan Uruguay di timur laut dan Chili di sebelah barat. Nama resminya untuk kepentingan legislatif ialah 'Negara Argentina' (Nacion Argentina).
Argentina adalah satu-satunya negara Amerika Latin yang ikut serta dalam Perang Teluk 1991 di bawah mandat PBB serta dalam setiap tahap operasi di Haiti. Argentina juga telah ikut serta dalam operasi penjaga perdamaian di seluruh dunia, termasuk di El Salvador-Honduras-Nikaragua, Guatemala, Ekuador-Peru, Sahara Barat, Angola, Kuwait, Siprus, Kroasia, Kosovo, Bosnia dan Timor Timur. Untuk menghargai sumbangannya terhadap keamanan internasional dan upaya menjaga perdamaian, Presiden AS Bill Clinton menyebut Argentina sebagai sekutu non-NATO yang utama pada Januari 1998. Pada 2005, Argentina terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Saat ini Argentina mengutamakan hubungan luar negerinya dengan Mercosur, berbeda dengan tekanan pada 1990 yang lebih mengutamakan Amerika Serikat.
Pada 2005, antara 4 November dan 5 November, kota Mar del Plata di Argentina menjadi tuan rumah untuk Pertemuan Puncak ke-4 Negara-negara Amerika. Pertemuan ini ditandai oleh sejumlah insiden protes anti AS.
Argentina mengklaim kedaulatan atas Kep. Falkland/Malvinas, Kep. Shetland Selatan, Kep. Sandwich Selatan dan wilayah seluas hampir 1 juta km² di Antartika, antara 25ºBB dan 74ºBB dan garis paralel 60ºLS. Wilayah Antartika ini disebut Antartika Argentina dan dianggap sebagai bagian dari Wilayah Nasional, karena berbagai alasan, antara lain adalah pendudukan permanen selama lebih dari satu abad.
Argentina adalah sebuah negara yang kaya dengan SDA, tingkat melek huruf yang tinggi, sektor pertanian yang maju serta industri yang beragam. Malangnya, sejak akhir 1980-an negara ini telah menimbun hutang luar negeri yang tinggi, inflasi sampai 200% sebulan, dan pengeluaran yang merudum. Dalam mengatasi krisis ekonomi tersebut, pemerintahan telah mengambil langkah-langkah seperti liberalisasi perdagangan, deregulasi, dan swastanisasi. Pada 1991, pemerintahan telah melaksanakan reformasi finansial yang radikal dengan mematok peso kepada dolar AS dan mencanangkan pertumbuhan keuangan untuk perlindungan moneter secara undang-undang.
Walaupun pada mulanya berhasil menurunkan tingkat inflasi dan pertumbuhan PDB yang semakin pulih, krisis ekonomi yang melanda Meksiko, Asia, Rusia dan Brasil pada 1999 telah mengeruhkan keadaan ekonomi negaranya.
Keadaan ekonominya semakin meruncing pada 2001 dengan widening of spreads pada Bon Argentina, pengeluaran secara besar-besaran oleh bank serta kejatuhan keyakinan pengguna dan para buruh. Usaha pemerintah untuk mencapai zero deficit, menstabilisasikan sistem perbankan, dan mengekalkan pertumbuhan ekonomi tidak mampu membendung masalah ekonomi yang semakin meningkat itu. Pada 21 Desember, Presiden De La Rua telah disingkirkan akibat rusuhan rakyat kelas pertengahan dan Kongres melantik Eduardo Duhalde sebagai ketua negara sementara. Duhalde kemudian bertemu dengan pegawai IMF untuk mendapat pinjaman tambahan $20 juta. Tambatan peso kepada dolar telah digugurkan pada Januari 2002, dan peso telah diapung dari dolar pada Februari yang mengakibatkan mayoritas rakyatnya kehilangan semua simpanan hidup mereka sewaktu kejatuhan ekonomi 2001 (Pada 2002 PDB adalah negatif 11%, inflasi mencecah 41% dan lebih 37% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan).
Pada 23 Desember 2001, presiden sementara Adolfo Rodriguez Saa telah mendeklarasikan moratorium utang.
Menurut pakar agronomi Alberto Lapolla, yang telah banyak menulis tentang transformasi Argentina dari sebuah negara bijian kepada "republik kedelai", 450.000 rakyatnya mati kelaparan di antara 1990 dan 2003. Berdasarkan kajian Institut d'études sur l'État et la participation (IDEP), ia menambahkan bahwa setiap hari 55 anak-anak, 35 dewasa dan 15 warga tua di negara ini mati akibat penyakit yang berkaitan dengan kelaparan.
Namun demikian pada Januari 2004, keadaan ekonomi telah menunjukkan tanda-tanda membaik disebabkan pertumbuhan dalam yang meriah pada tahun 2003. Pemulihan ekonomi negara diperkirakan berlanjut untuk beberapa tahun yang akan datang dengan kadar pertumbuhan dalam yang konstan. Walaupun begitu, sewaktu perjumpaan tahunan yang dihadiri anggota IMF/Bank Dunia, ketua-ketua IMF, Uni Eropa, G7 negara industri dan Institut Keuangan Internasional (IIF) yang diadakan pada 1-2 Oktober, Presiden Néstor Kirchner telah diberi peringatan untuk segera menstrukturkan kembali hutang negara, menambah belanjawan surplusnya untuk membayar lebih banyak hutangnya serta mengenakan reformasi struktur untuk membuktikan kepada komunitas keuangan sedunia bahwa Argentina layak menerima pinjaman serta investasi dari mereka.
Demografi
Mengenang Krisis Ekonomi Argentina
Masa-masa bangkit dari keterpurukan, serta membangun puing-puing ekonomi  yang dialami oleh Indonesia sesungguhnya tidak begitu berbeda dengan kasus Argentina yang juga dihantam badai krisis ekonomi .
Walaupun sebab krisis bisa dikatakan berlainan, tetapi pigura perekonomian antara Indonesia dan Argentina relatif sama, khususnya pada ketergantungannya terhadap utang luar negeri. Dengan karakteristik tersebut, tidaklah salah apabila Indonesia bisa menengok dan belajar dari kasus yang menimpa Argentina.
Argentina merupakan sampel dari tipikal negara-negara dunia ketiga yang hendak membangun ekonomi negara secara cepat dengan semangat kepentingan nasional yang menyala (structuring self-national interest). Cita-cita ini biasanya ditempuh lewat pencapaian tunggal ekonomi, yakni pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang tinggi.
Khusus untuk Argentina, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut diperoleh lewat penggunaan tabungan publik (public savings) untuk membiayai investasi publik (public investment). Setidaknya selama dekade 1980-an persentase investasi publik terhadap GDP di Argentina mencapai rata-rata 8% per tahunnya. Angka tersebut sungguh fantastis bila dibandingkan dengan negara-negara besar Amerika Latin lainnya seperti Brazil yang persentasenya hanya 3%, Chile 3,5%, dan Meksiko 4,4%. Dari sudut pandang ini bisa disimpulkan bila pada akhirnya investasi publik tersebut memunculkan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.
Tetapi sebagaimana lazimnya pilihan-pilihan kebijakan ekonomi, prioritas investasi publik yang demikian tinggi di Argentina harus dibayar dengan ongkos yang besar pada aspek lain, yakni besarnya defisit anggaran (budget deficit). Pengeluaran anggaran yang demikian besar itu tentu saja menimbulkan risiko inflasi yang membumbung, dan sebagaimana diketahui inflasi yang terjadi di wilayah Amerika Latin merupakan yang tertinggi di dunia, bahkan mencapai pertumbuhan ribuan persen pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.
Pada saat anggaran sudah tidak dapat lagi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi (melalui deficit spending) prioritas yang diambil oleh pemerintah Argentina adalah, sebagaimana jamaknya negara berkembang lainnya, melakukan pinjaman luar negeri (foreign debt). Bahkan saat ini Argentina merupakan salah satu negara peminjam utang luar negeri terbesar di dunia, di samping Brazil, Indonesia, dan Venezuela.
Utang luar negeri tersebut, yang berperan penting dalam menopang investasi publik di Argentina (dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi), saat ini telah turut membebani anggaran belanja pemerintah.
Ketergantungan terhadap utang luar negeri menjadi kian besar di Argentina, di mana pada tahun 2001 telah mencapai 132 milyar dollar, dikarenakan sejak dulu masalah sistem perpajakan (tax system) sebagai sumber penerimaan domestik tidak terlalu diperhatikan. Di negara-negara Amerika Latin beban pajak cenderung rendah secara sistematis, khususnya apabila dibandingkan dengan negara-negara Asia yang memiliki level pembangunan sama. Sebagian besar jenis pajak di negara Amerika Latin adalah tidak langsung (indirect tax), sehingga tidak terelakkan apabila sistem perpajakannya cenderung regresif.
Sistem tersebut hanya bisa “menggorok” penduduk yang berpendapatan rendah, tetapi tidak dapat menyayat penduduk yang memiliki pendapatan tinggi (wealthy people). Sehingga sangat wajar apabila pemasukan pajak yang cukup besar di Argentina kebanyakan berasal dari pajak ekspor. Tetapi ketika pajak ekspor mulai dikurangi, khsususnya untuk produk-produk primer pada dekade 1970-an, penerimaan pajak pemerintah sebagian  besar Cuma berasal dari pungutan yang diambil dari investasi khusus (special investment).
Sketsa buram dari negara Amerika latin tersebut, menjadi obor semangat bagi kita untuk memunculkan keberanian  yang tegas untuk menyelesaikan secara tuntas praktik-paktik ekonomi yang selama ini menyumbang besar bagi kehancuran perekonomia Indonesia seperti kasus korupsi, kolusi, dan  penyalahgunaan wewenang lainnya.
Tentu saja selama aspek-aspek tersebut belum disentuh oleh hukum, semakin membuat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahannya merosot, belum lagi soal tidak akan terjadinya kemungkinan bagi pengembangan sistem ekonomi yang lebih baik dikemudian hari.

Sindonews.com - Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan teguran keras terhadap pemerintah Argentina atas kegagalan mengatasi inflasi dan buruknya data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Dewan Eksekutif IMF menyebutkan, Argentina telah gagal membuat kemajuan dalam meningkatkan akurasi data. Untuk itu, mereka meminta negara Amerika Latin tersebut memperbaiki data tanpa ada penundaan.

"Kami telah mengeluarkan pernyataan mengecam Argentina sehubungan dengan pelanggaran atas kewajiban dana," ujar IMF dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Sabtu (2/2/2013).

Sebelumnya, Kementerian Ekonomi Argentina, Jumat (1/2/2013) malam, meminta pertemuan luar biasa dewan IMF untuk membahas kebijakan pemberian pinjaman multinasional terhadap negara Amerika Selatan itu.

Hubungan IMF dan Argentina terus memburuk sejak 2001-2002 akibat krisis utang negara. Argentina dinilai telah menyalahi kebijakan yang dikeluarkan IMF.

"Ini adalah langkah serius IMF. Situasi di Argentina semakin memburuk dan tidak ada tanda-tanda pemerintah mempunyai atau bahkan mencoba mengatasi masalah dasar pada pendanaan," kata Riordan Roett, direktur studi dari Johns Hopkins, Sekolah Paul H Nitze of Advanced Studies Internasional di Washington, AS.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Beban krisis utang seharusnya bukan pada Negara-negara Dunia Ketiga saja ,tetapi semua Negara juga.Namun,pada kenyataannya yang paling banyak menagbgung beban tersebut adalah negar-negara berkembang yang justru paling lemah.Banyak diantara mereka yng harus mengalami masa-masa yang sangat sulit,apalagi mereka juga harus melaksanakan serangkaian usaha penyesuaian structural yang serba menyakitkan.Dalam waktu bersamaan,pihak Negara-negara maju seharusnya juga mengendurkan kebijakan-kebjakan moneternya yang terlampau restriktif dan meningkatkan impor dari Negara-negara berkembang.Srangkaian penelitian menunjukkan bahwa,selain stabilitas politik,elemen penting bagi kemampuan Negara-negara berkembang untuk mengatasi utang luar negerinya,dan untuk menarik modal investor swasta,adalah penyesuaian suku bunga modal dan domestic.Penambahan praktek penghapusan utang lebih lanjut asih sangat diperlikan untuk teratasinya krisis utang.

B.     Saran
Maka dengan itu kita sebagai masyarakat harusnya salng mendukung upaya pemerintah dalam menaggulangi krisis utang luar negeri.Karna ini adalah salahsatu factor penting dalam pembangunan dan pertumbuhan sebuah Negara , khususnya Negara kita Indonesia tercinta.Semoga dengan membaca makalah ini pembaca semakin memahami seprti apa krisis utang luar negeri juga bersa cara enggulangannya.