Selasa, 04 Juni 2013

Ekonomi Sumber Daya Alam & Aspek - Aspek Kelangkaan SDA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Masalah sumber daya timbul karena adanya ketidakseimbangan antara sumber daya yang tersedia dengan kebutuhan manusia yang terus meningkat. Ada empat masalah yang berkaitan dengan keberadaan sumber daya, yaitu masalah kependudukan dengan lingkungan hidup, masalah produktivitas lahan dan manusia, masalah kualitas lingkungan dan masalah penyebaran sumber daya. Hukum kelangkaan merupakan landasan fundamental bagi keberadaan ekonomi sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam. Ekonomi sumber daya manusia sebagai cabang
khusus dari ilmu ekonomi pada dasarnya menjelaskan bagaimana memanfaatkan sumber daya manusia yang terbatas dalam rangka menghasilkan berbagai barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia seoptimal mungkin. Sejalan dengan itu, ekonomi sumber daya alam juga merupakan cabang khusus dari ilmu ekonomi yang kajiannya memfokuskan pada masalah pemanfaatan sumber daya alam yang ada, baik pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang. Dalam membahas fokus kajiannya, ekonomi sumber daya manusia tidak hanya menggunakan teori ekonomi mikro tetapi juga teori ekonomi makro. Di lain pihak, ekonomi sumber daya alam lebih banyak menggunakan pendekatan teori ekonomi mikro. Ekonomi sumber daya manusia dan ekonomi sumber daya alam keduanya dapat dikategorikan sebagai ilmu ekonomi terapan atau ilmu ekonomi normatif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengukuran ekonomi terhadap kelangkaan ?
2.      Bagaimana peran SDA dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ?
C.     Tujuan Pembuatan Makalah
1.      Sebagai tugas pengganti UAS pada mata kuliah Bahasa Indonesia
2.      Untuk mengetahui tentang pengukuran ekonomi  terhadap kelangkaan
3.      Untuk menambah pengetahuan tentang kelangkaan yang terjadi di Indonesia.
D.    Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini mencakup beberapa yang diantaranya sebagai berikut :
a.       Bagi Mahasiswa                      : Makalah ini dapat digunakan sebagai referensi atau masukan tentang pentingnya pengetahuan terhadap kelangkaan yang terjadi
b.      Bagi Masyarakat Umum         : Sebagai bahan bacaan yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang pendidikan serta untuk menambahkan peran aktif masyarakat dalam pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Kelangkaan dan Macam-Macam Sumber Daya Alam dalam Ekonomi
Pengertian Kelangkaan (Scarcity) :Menurut Lipsey, kelangkaan dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana jumlah kebutuhan manusia yang sangat tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat terbatas jumlahnya. Dengan singkat kata kelangkaan terjadi karena jumlah kebutuhan lebih banyak dari jumlah barang dan jasa yang tersedia.
Dalam ekonomi sumber daya alam di bagi menjadi dua yaitu :
1)        SD. Alam yang dapat diperbarui (renewable resources), dimana sumber daya alam ini memiliki kemampuan untuk memperbarui baik secara alami maupun harus dengan campur tangan manusia.
2)        SD. Alam yang tidak dapat diperbarui (non renewable resources), yaitu sumber daya alam yang tidak mempunyai kemampuan memperbarui baik alami maupun oleh manusia. Misalnya berbagai macam tambang.



B.     Pengukuran Ekonomi Terhadap Kelangkaan
     Kebenaran dari seluruh alat pengukur masih perlu dikaji bagaimana ketelitian dari alat ukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus dikaji ulang mengingat kondisi pasar yang ada, khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas, dan tidak ada campur tangan pemerintah. Pendekatan baik secara fisik maupun secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan. Sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit untuk memastikan kondisi dari sumber daya alam itu, apakah masih melimpah atau sudah langka adanya .
Pendekatan yang di gunakan dalam mengukur kelangkaan di bagi menjadi dua yaitu :
a.         Biaya Produksi
Ekonom klasik Ricardo dan Jevons melihat bahwa peningkatan biaya produksi berhubungan dengan semakin berkurangnya persediaan sumber daya alam. Memang barang sumber daya alam sudah terus menerus diambil dari bumi ini. Barneett dan Morse telah meneliti pola perkembangan biaya produksi untuk komoditi ekstraktif sepanjang sejarah perkembangan industri di Amerika Serikat
Barnett dan Morse memulai studinya dengan melihat pada doktrin Klasik tentang meningkatnya kelangkaan ekonomis akan sumber daya alam. Pada umumnya orang percaya bahwa sumberdaya alam secara ekonomis memang langka, dan berkembangnya waktu sumberdaya alam itu menjadi semakin langka, dan ini akan menganggu kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Namun dalam studi Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori klasik mengenai meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam itu tidak dapat diterima, kecuali dalam hal yang  sangat terbatas atau tertutup.
Barnett dan Morse membuat hipotesis tentang kelangkaan sumberdaya alam yaitu bahwa sumberdaya alam itu semakin langka bila:
1)      Biaya rill persatuan output meningkat terus selama periodepengambilan.
2)      Biaya komoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada biaya produksi komoditi lain.
3)      Harga komoditi yang diambil relatif lebih tinggi dari pada harga komoditi lain.
a)      Beberapa Alasan Mengapa SDA tidak Makin Langka
1.       Karena adanya barang subsitusi bagi       SDA
2.       Karena adanya penemua baru dg dipa  kainya metode ekplorasi baru, seperti metode geofisik, geokemis dan satelit.
3.       Karena ada peningkatan dalam impor       meneral dan metal.
4.       Perkembangan teknologi
5.      Recycling (daur ulang) 

b)        Harga Barang Sumberdaya Alam
1.      Makin mahal harga barang sumberdaya makin langka sumberdaya tersebu
2.      Rent adalah harga bayangan satu satuan barang sumberdaya dalam persediaan.
3.      Bila tertarik pada kelangkaan maka rent lebih tepat sebagai alat ukurnya. Namun bila mengetahui banyaknya pengorbanandala memperoleh  SDA, maka harga lebih tepat  sebagai inikatornya karena harga sudah mencakup biaya produksi dan rent
4.      V.K Smith menemukan bahwa laju penurunan harga barang sumberdaya itu semakin kecil, ini menunjukkan keadaan sumber daya semakin langkah
c)        Kelemahan pengukuran Biaya Produksi Menurut Brown Field
a. Biaya rata2 oleh Barnett dan Morse dalam mengukur kelangkaan merupakan indikator yang meragukan karena:
1.      Dalam dunia yg berkembang terus, biaya rata2 tidak tepat digunakan untuk mengukur kelangkaan yg semakin meningkat karena karena tingkat teknologi berkembang terus.
2.      Bahwa biaya persatuantidak memperhitungkan biaya2 pengambilan sumberdaya di masa datang sebagai akibat dari meningkatnya kelangkaan itu sendiri.
3.       Biaya persatuan tidak dapat menjadi indek pengukur yg tepat, karena biaya pengambilan di masa datang tidak dapat diperhitungkan di sini
4.      Biaya persatuan tidak mencerminkan keadaan semakin berkurangnya SDA
5.      Biaya persatuan merupakan alat pengukur yg kurang tepat
b.         Bahwa harga barang sumberdaya relatif lebih baik dp biaya persatuan sebagai pengukur kelangkaan SDA karena:
1.   Harga riil barang sumberdaya lebih melihat ke depan dan mencerminkan adanya biaya yg diharapkan di masa yg akan datang baik untuk eksplorasi, pene muan, maupun pengambilan.
2.   Kemajuan teknologi mengalihkan tanda2 kelangkaan SDA yg ditunjukan oleh harga riil barang sumberdaya. Conto akhir abad ke xix kayu menjadi langka, tetapi kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabilan harga barang.
3.   Harga riil tidak menunjukkan adanya ke cendrungan semakin langkanya SDA yg memiliki sumberdaya pengganti.
4.   Harga riil sumberdaya dapat meningkat atau menurun, yg berarti menunjukkan adanya kelangkaan, tergantung harga mana yang dipakai untuk membuat angka indek(price deplator). Oleh karena itu harga barang sumberdaya alam juga merupakan alat pengukur yang kurang jelas 
c.         Nilai dari SDA atau nilai SDA di tempatnya (in situ resources), merupakan alat pengukur yg ketiga terhadap kelangkaan SDA. Nilai sewa ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan SDA dp dua cara sebelumnya. Nilai sewa SDA pada umumnya meningkat beberapa puluh tahun yg terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru menurun, khusus nya kayu.
b.        Harga Barang Sumberdaya Alam
Kelangkaan sumberdaya alam dapat dilihat dari harga barang sumberdaya yang semakin meningkat maupun dilihat dari “ royalty “ atau “ Rent “. Rent adalah harga bayangan satu satuan barang sumberdaya dalam persediaan ( stock ). Bila seseorang tertarik pada “ kelangkaan “ maka “ rent “ lebih tetap sebagai alat pengukurannya. Namun bila seseorang berminat untuk mengetahui banyaknya pengorbanan dalam memperoleh baran sumberdaya alam, maka harga lebih tepat sebagai indikatornya karena harga sudah mencakup biaya produksi dan rent. Selanjutnya karena rent sangat sulit untuk diamati maka “ harga” lebih banyak dipakai sebagai indikator baik untuk melihat kelangkaan maupun pengorbanan guna menghasilkan barang sumberdaya alam.
Brown dan Field mengatakan bahwa semua cara yaitu biaya produksi per satuan, harga barang sumberdaya alam dan nilai sewa ekonomis memiliki kelemahannya sendiri – sendiri dan mereka membagi hal – hal tersebut, sebagai berikut :
1.             Biaya rata- rata atau biaya persatuan yang dipakai oleh Barnett dan Morse dalam mengukur kelangkaan sumberdaya alam merupakan indikator yang meragukan karena hal – hal sebagai berikut :
a)        Dalam dunia yang berkembang terus, biaya rata –rata tidak tepat digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat karena tingkat teknologi berkembang terus.
b)        Bahwa biaya per satuan tidak memperhitungkan biaya – biaya pengambilan sumberdaya di masa datang sebagai akibat dari meningkatnya kelangkaan itu sendiri.
c)        Biaya per satuan tidak dapat menjadi indeks pengukur yang tepat, karena biaya pengambilan di masa datang tidak dapat diperhitungkan di sini.
d)       Biaya per satuan tidak mencerminkan keadaan semakin berkurangnya sumber daya alam.
e)        Biaya persatuan merupakan alat pengukur yang kurang tepat.
2.             Harga barang sumberdaya relatif lebih baik dari pada biaya per satuan sebagai pengukur kelangkaan sumberdaya alam karena :
a)        Harga rill barang sumberdaya lebih melihat kedepan dan mencerminkan adanya biaya yang diharapkan di masa datang baik untuk eksplorasi, penemuan, maupun pengambilan.
b)        Kemajuan teknologi mengalihkan tanda – tanda kelangkaan sumberdaya alam yang ditunjukkan oleh harga rill barang sumberdaya.
c)        Harga rill tidak menunjukkan adanya kecenderungan semakin langkanya sumberdaya alam yang memiliki sumberdaya pengganti ( subsitusi ).
d)       Harga rill sumberdaya dapat meningkat ataupun menurun, yang berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya kelangkaan tergantung pada harga mana yang dipakai untuk membuata angka indeks ( price deflator ). Oleh karena itu harga barang sumberdaya alam juga merupakan alat pengukur yang kurang jelas.
3.             Nilai sewa dari sumberdaya alam ( economic rent ) atau nilai sumberdaya alam ditempatnya  ( in situ resources ), merupakan alat pengukur yang ketiga terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Nilai sewa ini lebih tepat menggambarkan kelangkaan sumberdaya alam daripada sumberdaya yang disebut sebelumnya. Nilai sewa ( economic rent ) semberdaya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh tahun yang terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru menurun.
Namun ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur ini, diantaranya yaitu :
a)        Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumberdaya alam, karena nilai sewa semberdaya alam itu tidak praktis dalm jangka pendek.
b)        Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumberdaya alam yang semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetap berkurangnya sumberdaya alam secara fisik belum tentu sejalan dengan kenaikan nilai sewa semberdaya alam sebagai cermin dari kelangkaan ekonomis.
c)        Sebagai sumberdaya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan umum, sehingga harga pasar tidak mencerminkan penilaian yang sesungguhnya terhadap sumberdaya alm itu.
d)       Tidak ada “future  market” untuk sumberdaya alam, sehingga tingkat harga dimasa yang akan datang hanya ditentukan oleh harapan saja ( expectation ).
e)        Semberdaya alam mempunyai aspek baran publik, yang pengkonsumsiannya tidak harus mengeluarkan orang yang tidak sanggup membayar ( exclusion principel tidak berlaku ), dan kalau barang itu dikonsumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk dikonsumsi orang lain ( rivalry in consumption tidak berlaku ), sehingga harga pasar kurang dapat mewakili.
Sebagai upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat lagi yaitu dengan melihat elastisitas subtitusi antara faktor – faktor produksi khususnya kapital dan tenaga kerja apabila terdapat kelangkaan sumberdaya alam.jadi dengan melihat kemudahan bagi faktor produksi lain dalam menggantikan sumberdaya alam yang relatif semakin langkah. Semakin berkurangnya semberdaya alam sebenarnya tidak perlu ditakutkan asalkan ada kemudahan untuk menggantikan sumberdaya yang semakin langkah itu dengan sumberdaya lain yang lebih banyak jumlahnya. Jadi dalam hal ini sumberdaya alam itu tidak langkah selama sudah dalam mencarikan penggantinya. Oleh karena itu tampaknya ukuran kelangkaan itu dapat dilihat dari elastisitas subsitusinya yang mencerminkan tanggapan dalam perubahan penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya pengganti terhadap perubahan harga.
C.       PERANAN SDA DALAM PEMBANGUNAN
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam tidak sama dengan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya barang sumberdaya yang yang dipakai dalam proses produksi.Semakin cepat pertumbuhan ekonomi akan emakin banyak barang sumberdaya yang diperlukan dalam proses produksi yang pada gilirannya akan mengurangi tersediannya sumberdaya alam yang ada di dalam bumi karena barang sumberdaya itu harus diambil dari tempat persediaan (stock) sumberdaya alam.Jadi semakin menggebunya pembngunan ekonomi di negara yang sedang berkembang termasuk negara kita Indonesia karena merasa tertinggal dari Negara lain dan ingin menghilangkan adanya kemiskinan di negara tersebut,maka akan berati semakin banyak barang sumberdaya yang diambil dari dalam bumi dan semakin sedikitlah jumlah persediaan sumberdaya alam tersebut.Dengan demikian dapat dikatakan ada hubungan yang positif antara jumlah dan kuantitas barang sumberdaya dan pertumbuhan ekonomi,tetapi sebaliknya ada hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan tersedianya sumberdaya alam yang ada didalam bumi.Disamping itu dengan pembangunan ekonomi yang cepat yang dibarengi denagan pembangunan pabrik,akan tercipta pula pencemaran lingkungan yang semakin membahayakan kehidupan manusia.
Hubungan antara jumlah penduduk pertumbuhan ekonomi,barang sumber daya alam dan lingkunga dapat digambarkan sebagai berikut:
Dari gambar diatas dapat di jelaskan bahwa hubungan antara jumlah penduduk,pertumbuhan ekonomi,barang sumber daya alam dan lingkungan,.Dengan berkembangnya jumlah penduduk perekonomian harus lebih banyak menyediakan barang dan jasa demi mempertahankan atau mempertinggi taaf hidup suatu bangsa.Namun peningkatan produksi barang dan jasa akan menuntut lebih banyak produksi barang sumber daya alam yang harus diambil dari persediannya.Akibatnya sumber day alam menjadi semakin menipis dismping itupencemaran lingkungan semakin meningkat seiring laju pertumbuhan ekonomi.Jadi dengan pembangunan ekonomi akan terjadi dua macam akibat yaitu di satu pihak memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia berupa semakin tersedianya barang dan jasa dalam perekonomian dan dilain pihak terdapat dampak negative bagi kehidupan manusia berupa pencemaran lingkungan dan menipisnya sumber daya alam.Oleh karena itu pembangunan ekonomi haruslah bersifat pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan yang yang berkelanjuta dan tidak menguras SDA.Konsep pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang berbeda. Terjadinya pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi belum tentu mencerminkan terjadinya pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu kriteria. Keberhasilan pembangunan ekonomi. Keterkaitan antara sumber daya manusia dan alam dengan pembangunan ekonomi ditunjukkan oleh konsep fungsi produksi. Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia mutlak diperlukan. Melalui pendekatan terpadu pengembangan sumber daya manusia, peranan sumber daya manusia dalam proses pembangunan ekonomi akan semakin penting. Ada hubungan tertentu antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam dan dengan barang sumber daya alam. Hubungan negatif terjadi antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam, sedang hubungan positif terjadi antara pertumbuhan ekonomi dengan barang sumber daya alam. Peranan sumber daya alam dalam pembangunan ekonomi akan ditentukan oleh tingkat teknologi, modal dan juga kualitas sumber daya manusianya itu sendiri. Memacu pembangunan ekonomi berarti pula mengurangi persediaan sumber daya alam. Karena itu diperlukan pengertian pemanfaatan sumber daya alam yang bijaksana dan lestari, yang disertai pula dengan pengertian tentang pembangunan yang berwawasan lingkungan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
     Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran kelangkaan melalui pendekatan secara fisik maupun secara ekonomis sama – sama memiliki kelemahan. Pendekatan secara fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan, sedangkan pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit untuk memastikan kondisi dari sumberdaya alam itu, apakah masih melimpah atau sudah langkah adanya, walaupun kita mengetahui secara pasti  bahwa pengambilannya telah dilakukan secara terus – menerus bahkan dengan laju yang semakin meningkat.
     Dapat disimpulkan juga bahwa ketelitian dari alat pengukur ini perlu dikaji bagimana ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus mengingat kondisi pasar yang ada; khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja secara sempurna, tidak ada eksternalitas ( eksternality ), dan tidak ada campur tangan pemerintah.
Pentingya peranan sumber daya alam dalam pembangunan berkelanjutan, tanpa menghindari kepunahan dari sumber daya alam itu sendiri.


 Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan dan pengendalian melalui berbagai usaha antara lain:
·         Pengambilan sumber daya alam tidak boleh melebihi tingkat pertumbuhan.
·         Kapasitas lingkungan dalam menyerap pencemaran tidak boleh berkurang.
·         Melestarikan fungsi lingkungan baik sebagai sumber bahan mentah maupun sebagai penampung limbah.
·         Menyatukan pemikiran ekonomi dengan ekologi.
·         Peran serta masyarakat setempat dalam pengelolaan sumber daya lingkungan ditingkatkan melalui penyuluhan-penyuluhan.
B.     Saran
     Semoga dengan tersusunya karya tulis ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang, ekonomi sumberdaya alam dan mengetahui aspek – aspek kelangkaan sumberdaya alam. Selain itu agar dapat mengetahui betapa pentingnya peranan sumberdaya alam terhadap ekonomi.